Rabu,Tanggal 24 Februari 2010, Kelas 5A berkunjung ke 4 Museum. Yaitu Museum Bahari, Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, Proklamasi. Tujuan kami Berkunjung ke 4 Museum adalah untuk Study Tour.
Museum Bahari
Museum Bahari Terletak di Jl.Pasar Ikan No.1 Jakarta Utara. Gedung Museum Bahari dibangun pada tahun 1652-1774. Gedung ini dibangun pada masa Pemerintahan J.P. Coen, Gubernur Pertama VOC Belanda di Indonesia. Gedung ini dibangun sebagai gudang rempah-rempah. Pada masa Jepang, gedung ini digunakan sebagai gedung logistik/Militer. Setelah Merdeka, gedung ini digunakan sebagai gudang PLN/Kantor Telkom. Gedung ini direnovasi pada tahun 1976, dan diresmikan oleh gubernur DKI Jakarta Bpk. Ali Sadikin.
Koleksi Perahu di Museum Bahari-
Museum Bahari banyak Mengoleksi Perahu Perahu seperti
- Kapal Phinisi dari Sulsel,Kapal Glati dari Madura, Cadik dari Irian, Cora-Cora dari Maluku.
- Menara Syah Bandar, Menara Syah Bandar dibangun pada tahun 1839 sebagai Menara Kontrol/Yang Mengawasi Pelabuhan.
![]() |
![]() |
| Perahu Cora-Cora di Museum Bahari | Perahu Di Museum Bahari |
Museum Sumpah Pemuda
Museum Sumpah Pemuda terletak di Jl.Kramat Raya, Jakarta Pusat. Dulu gedung ini adalah hotel milik Xie Kong. Lalu ia berbaik hati dan memberikan hotelnya untuk dijadikan tempat berkumpulnya para pemuda rumah. Gedung ini diresmikan pada tanggal 20 Mei 1974 Oleh Presiden Suharto.
Tokoh-Tokoh Sumpah Pemuda
W.R. Supratman, Mohammad Yamin, Amir Syarifudin
Dibacanya Sumpah Pemuda pada tanggal 27-28 Oktober 1928.
![]() |
![]() |
| Patung WR. Supratman sedang memainkan biola | Teks Sumpah Pemuda |
Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional dulunya adalah STOVIA. Museum Kebangkitan Nasional terletak di Jl. Abdurrahman Saleh No.26 Jakarta Pusat. Museum ini berada didalam kompleks Gedung Kebangkitan Nasional, Yakni salah satu diantaranya gedung-gedung bersejarah di DKI Jakarta yang dilindungi oleh Undang-Undang RI No.5 Tahun 1992 tentang "Benda Cagar Budaya".
-Sejarah Gedung-
Gedung Museum ini yang dulunya STOVIA dibangun pada tahun 1899, dan selesai pada tahun 1901. Pada Bulan Maret Tahun 1902 diresmikan pemakaiannya untuk STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) , Yakni Sekolah kedokteran untuk orang-orang bumi Putera yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Sejarah Pelajar STOVIA
Para Pelajar STOVIA Diharuskan tinggal di asrama Gedung itu juga. Sampai selesai sekolahnya. Lama pendidikan untuk persiapan 2-3 yahun. Kemudian belajar bagian kedokteran 5-6 tahun. Pelajar yang diterima masuk STOVIA adalah Para siswa lulusan Europeesche Lagere School (ELS) atau Sederajat. Pada tahun 1920 pendidikan STOVIA pindah ke gedung di Jl.Salemba no.6, Karena gedung lama tidak memadai lagi untuk pendidikan kedokteran.
Tetapi asramanya tetap menggunakan gedung lama. Pada tahun 1925, gedung STOVIA digunakan untuk pendidkan MULO, AMS, dan Sekolah Asisten Apoteker sampai tahun 1942. Seluruh Penghuninya dipindahkan secara baik dan Setelah selesai Pemugaran. Gedung ini Diresmikan oleh Presiden Suharto pada tanggal 20 Mei, 1974 dengan nama "Gedung Kebangkitan Nasional.
Dokter Wanita Indonesia Pertama
Dokter Wanita Pertama Indonesia adalah Marie Thomas, Berasal dari suku Minahasa. Yang mendapat gelar Dokter. Lulus STOVIA pada tahun 1922.
Sejarah Dr.Sutomo Di STOVIA
Dr.Sutomo Hampir dikeluarkan dari STOVIA karena mendirikan organisasi "Budi Utomo". Dr.Hafroll membela Dr.Sutomo agar tidak dikeluarkan dari STOVIA. Dr. Hafroll adalah Direktur pertama STOVIA dia sangat berjasa kepada pelajar-pelajar STOVIA.
Museum Proklamasi
Gedung ini didirikan sekitar tahun 1927 dengan luas tanah 3.914m dan luas bangunan 1.138,10m. Pada tahun 1931 Pemilik atas Nama PT. Asuransi Jiwasraya.
Masa Jepang
Pada Masa Jepang, gedung ini menjadi tempat-tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda. Kepala kantor Penghubung antara angkatan laut dan angkatan darat. Setelah Kemerdekaan gedung ini tetap menjadi tempat Laksamana Tadashi Maeda.
Sejarah Gedung
Gedung Ini dikontrakkan oleh kedutaan Inggris pada tahun 1981. Selanjutnya Geudng ini diterima oleh Dep Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 28 Desember 1981. Pada Tahun 1982, gedung ini sempat digunakan oleh Perpos Nas Sebagai perkantoran. Gedung ini sangat Penting bagi bangsa Indonesia karena Tanggal 16-17 Agustus, 1945 terjadi peristiwa sejarah,yaitu Perumusan Naskah Proklamasi Bangsa Indonesia. Oleh Karena itu 1984 mentri Pendidikan dan Kebudayaan menginstrusikan kepada Direktorat Kemusuiman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Peristiwa Rengasdengklok
Agar Cepat merdeka, Ir.Sukarno dan M.Hatta dibawa ke Rengasdengklok. Lalu karena khawatir para pemuda PPKI menyuruh Ahmad Subarjo untuk menjemput Ir.Sukarno dan M.Hatta di Rengasdengklok. Saat ingin membawa Ir.Sukarno dan M.Hatta dibawa ke Jakarta, Para pemuda di Rengasdengklok tidak percaya dengan Ahmad Subarjo karena Ahmad Subarjo adalah orang kepercayaan Laksamana Tadashi Maeda. Sewaktu Ahmad Subarjo berkata kalau Ir.Sukarno dan M.Hatta dibawa ke Jakarta.17 Agustus akan merdeka dan Jika tidak Ahmad Subarjo akan ditembak oleh Para Pemuda.
Pada Tanggal 17 Agustus,1945 pembacaan Teks Proklamasi tidak berbahaya pembacaan dilakukan di rumah Soekarno.

Twitter
Myspace
Digg
Del.icio.us
Yahoo
Technorati
Googlize this
Facebook




Comments
RSS feed for comments to this post